Ukhti, La Tahzan!

           
Dekade terakhir ini, pembahasan mengenai pasangan hidup atau jodoh getol di angkat oleh para muballigh di atas mimbar-mimbar ataupun di majelis-majelis taklim tuk mengenalkan kepada masyarakat umum khususnya kawula muda bahwa betapa pentingnya persoalan jodoh ini. 
Oleh karena begitu pentingnya, media informasi -seperti elektronik, digital, ataupun, media cetak- tak luput pula membahasnya. Namun apa daya gayung tak bersambut. Masyarakat umum terlebih khususnya generasi muda masih kurang mengerti bahkan abai akan urusan pasangan hidup atau jodoh ini. Mereka mendefinisikan jodoh adalah ketika hati memiliki keterikatan atau kesamaan yang berlarut-larut pada lawan jenis. Sehingga muncullah istilah-istilah seperti LDR(Long Distance Relationship) atau istilah baru yang agak unik, LCR(Long Cyber Relationship) yang mereka gunakan tuk menjaga agar benih-benih cinta itu tetap bersemai dalam sukma, sekalipun terpisah oleh sekat-sekat pembatas dengan kata lain ruang dan waktu. Bahkan tidak sedikit pula mereka yang telah “merasa” berjodoh, menjalin hubungan hingga bertahun-tahun lamanya. Padahal jalinan kasih yang bertahun-tahun lamanya itu sama sekali  tidak di bingkai dalam hubungan yang sah. Naudzubillah. Sehingga inilah maksud dari kurangnya pemahaman generasi muda akan hal jodoh ini. Letupan-letupan bara asmara yang bertahun-tahun lamanya itu, begitu mudahnya padam tatkala telah di himpun dalam bingkai hubungan yang sah, menikah.
Tak ada lagi kisah kasih, untaian kata-kata romantis, ataupun senyum perhatian dari kedua pasangan. Semuanya hilang bagai langit cerah tertutup awan mendung. Di karena kan adanya sedikit aib yang terdapat pada pasangan. Dan puncaknya, semua itu berujung pada perceraian. Orang yang dahulunya begitu di cintai, sayangi, dan kagumi malah kini berbanding sebaliknya. Sehingga benarlah apa  yang di katakan oleh dua sosok agung ini. Ya, Allah dan RasulNya.
Sang Rasul berkata, “Cintailah seseorang sekadarnya saja karena boleh jadi suatu hari nanti dia akan menjadi orang yang engkau benci, dan bencilah seseorang sekadarnya saja karena boleh jadi suatu hari nanti dia akan menjadi orang yang engkau cintai”. (HR. Tirmidzi).
Dan pernyataan tadi lebih di tegaskan lagi oleh Allah SWT dalam kitabNya. Dia berfirman,”...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”.(QS. Al-Baqarah:216).
Sungguh begitu gamblang dan real pernyataan dari dua sosok tadi. Disana di jelaskan bahwa kecintaan dan kebencian kita terhadap sesuatu harus dalam takaran yang normal saja, sebab kita tidak mengetahui apa yang kita kira demikian. Oleh karenanya, bila saat ini kita memiliki perspektif terhadap orang lain bahwa orang tersebut buruk jangan langsung kita menjudgenya bahwa orang tersebut buruk. Demikian pula sebaliknya, bila saat ini kita terlalu mengagumi seseorang jangan langsung jatuh hati padanya, hingga kita berani berkata padanya,“semoga saja engkau menjadi imam ku”. Namun seyogianya terlebih dahulu kita memverifikasi orang tersebut. Atau, mungkin saat ini kita telah menjalin hubungan dengan seseorang namun jarak memisahkannya sehingga kita tidak henti-hentinya memikirkan orang tersebut meski dalam keadaan beribadah sekalipun.
Maka untuk kasus seperti ini seorang Darwis-Tere Liye mengatakan,”Jika dua insan memang benar-benar saling menyukai satu sama lain, bukan berarti mereka harus bersama saat ini juga. Tunggulah di waktu yang tepat. Saat semua memang sudah siap, maka kebersamaan itu bisa jadi hadiah yang hebat untuk orang-orang yang bersabar. Sementara menanti, sibukkanlah diri untuk terus menjadi lebih baik. Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya. Apakah rasa suka itu semakin besar, atau semakin memudar?” Begitulah kiranya...


Wallahu a’lam Bisshawaab..


Komentar

Postingan Populer