Mens Sana In Corpore Sano
Sebagai salah satu negara berkembang, Indonesia terus berupaya untuk memacu tingkat pertumbuhan bangsanya. Baik itu dari sektor perekonomian, pendidikan, sosial, budaya juga kesehatan. Semua itu di maksudkan dalam rangka mensejahterakan bangsa Indonesia di kancah dunia. Kendatipun memang pada point terakhir, yakni aspek kesehatan. Indonesia sampai saat ini terus mendapati hambatan dan kendala. Sebagaimana yang penulis lansir dari media nasional, CNN Indonesia. Bahwa terhitung dari tahun 2014 lalu hingga kini. Badan Peyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan atau BPJS Kesehatan terus mengalami defisit hingga triliunan rupiah. Hal ini di sebabkan karena sekitar 10 juta peserta BPJS masih menunggak iuran. Sehingga cukup memaksa pemerintah untuk menggelontorkan dana sebesar 10,25 triliun sepanjang tahun 2018 lalu untuk menutupi defisit tadi.
Kendatipun pemerintah telah cukup banyak menyuntikkan dana untuk menutupi defisit yang terjadi, akan tetapi BPJS masih mengalami defisit sebesar 6 triliun rupiah. Yang mana, defisit yang di alami BPJS ini akhirnya berimbas pula pada kurangnya pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Di antaranya terlambat menggaji petugas kesehatan, ketersedian obat-obatan yang terbatas, belum lagi kondisi infrastruktur kesehatan yang kurang memadai. Sehingga hal ini juga membuat BPJS harus menunggak ke beberapa rumah sakit, tentunya dengan nomimal yang cukup besar. Sebut saja yang di alami BPJS Semarang. Mereka harus membayarkan tunggakannya sebesar 138 milliar kepada 20 rumah sakit yang berada di Kota Semarang dan Kabupaten Demak.
Maka menyoroti persoalan ini. Tentunya kita sebagai rakyat Indonesia memiliki andil dan peran di dalam menuntaskan permasalahan ini. Kendatipun memang kita sebagai rakyat, adalah objek utama dari layanan kesehatan ini. Akan tetapi prinsip dasar dari pelayanan ini adalah dari rakyat dan untuk rakyat. Maka masyarakat yang telah bersedia menjadi ”peserta” dari pelayanan kesehatan ini, marilah untuk lebih peduli terhadap dirinya sendiri dan orang banyak. Dengan upaya rutin menyelesaikan iuran yang ada. Sebab, salah satu penyebab dari defisitnya layanan kesehatan masyarakat ini adalah banyaknya dari peserta yang “malas” untuk melunasi iuran sedangkan kebutuhan untuk pengobatan ingin selalu di layani. Tentunya hal ini tidak berimbang.
Karenanya, masalah ini adalah tanggung jawab kita bersama sebagai rakyat Indonesia -bukan berarti mega-persoalan ini di limpahkan kepada rakyat lantas pemerintah lepas tanggungjawab. Tidak-. Namun, ada baiknya rakyat Indonesia sedari kini membiasakan gaya hidup sehat dan lebih berhati-hati dalam menjalani hidupnya. Kendatipun, segala sesuatunya telah di tentukan oleh Allah SWT, namun yang pasti kita hidup di dunia kausalitas. Artinya sesuatu terjadi karena ada sebabnya. Sebagai analoginya, seseorang takkan mengidap kanker serviks manakala sebelumnya dia tidak melakukan sesuatu yang salah. Maka inilah salah satu upaya kita bersama untuk menyelesaikan persoalan layanan kesehatan tadi. Dimana yang telah terlanjur sakit lebih di prioritaskan dari yang tidak sakit, sedangkan yang tidak sakit(sehat) jangan mencari penyakit.
Sebab pembahasan mengenai kesehatan ini cukup menjadi sorotan di berbagai negara. Untuk negara Indonesia sendiri, Indonesia berada kisaran urutan ke-90 negara tersehat. Karenanya kebutuhan akan sehat ini begitu urgent dan prioritas dalam kehidupan manusia. Mens sana in conpore sano. Dengan kondisi fisik, jiwa, dan akal yang sehat, manusia bisa melangsungkan setiap aktivitasnya dengan baik dan benar. Dengan kondisi tubuh yang sehat pula, manusia bisa menolong sesamanya. Dan hal ini akan bermula bilamana kita semua membiasakan gaya hidup sehat. Akhirnya, perihal kesehatan tetaplah prioritas nomor satu, sedangkan urusan presiden tetaplah nomor dua.


Komentar
Posting Komentar